Aku bukan Malaikat!

Gambar

Bukan…aku bukan Malaikat!
Menyihirmu dalam keramahan batin dan menyuapimu dengan sesendok coklat kedamaian
Bukan…aku bukan Malaikat!
Mencatat setiap kebaikanmu atau membisiki telingamu supaya berjalan diatas penerangan
Ah…bukan…aku bukan Malaikat!
Memberimu segenggam roti dalam kelaparan dan menyuguhkan selimut iman tebal yang hangat
Bukan…bukan!!
Jangan kau terima aku! Jangan kau dengarkan aku!
Aku adalah sedikit pecundang yang lari, menjauh dari keramaian
Aku adalah bagian jiwa rapuh yang kau tahu, terus kau rapuhkan, patahkan dan kau pasang kembali dalam sayapku
Aku adalah bentukan sayapmu…aku adalah kamu!
Aku selalu terbang dengan remote yang kau pegang dengan kendali amperemeter atau mungkin baterai berjuta-juta volt.
Tidak!! Tidak!!
Jangan kau terima aku dalam setiap mimpi indahmu atau senyum manismu kala bahagia
Simpanlah aku ketika kau marah, gagal atau kecewa dan tempeleng saja aku.
Aku hanyalah bentukan sayap yang gagal terbang dan tak sempurna untuk mengarungi lautan
Aku hanyalah bagian dari ‘tangan-tangan’ yang mencengkeram nadiku dan menginginkan hausnya darahku.
Aku terlalu malu..biarkan aku melayang..bukan terbang seperti yang kau inginkan.

Ya..biarkan aku melayang!
Aku hanya sedikit terlalu murahan dan darahku haus akan bercik-bercik noda yang tidak bisa kau bersihkan dengan detergen.
Aku terlalu naif, ‘kanker jalanan’ , ‘prostat trotoar’, atau ‘setan bayangan’ yang berkaca dua..melihat hitam diatas putih atau melihat putih diatas hitam.
Ah..kau tak perlu tahu siapa aku.
Tak perlu kau cari aku dalam glosari aljabar, statistik geometri, bayangan fluida, rumus hukum Archimedes atau kerlap-kerlip natrium benzoat.
Tak perlu kau temui aku dalam filsafat Plato, konsep rekayasa sosial, gejala makro ekonomi atau prinsip dasar kebudayaan.
Kau hanya perlu temui aku dalam senyum.
Aku hanya perlu senyummu!
Tapi..jangan..jangan dengan senyum busukmu!

IBU TUA DALAM KEBAYA

Perempuan tua yang mengenakan kebaya usang itu mengeluarkan air mata. Matanya sesekali basah sambil menatap deretan lalu lalang motor dijalanan kota. Dulu…dulu sekali dia dan kedua anaknya sering menggelar dagangan dipinggir jalan itu. Bertiga menawarkan dagangan mainan dan rujak buah buatannya. Bertiga saja tanpa ada suami karena ia telah meninggal jauh ketika Toni, anak bungsunya menginjak usia satu tahun dan si sulung, Ade berumur lima tahun. Bertiga saja menembus kegilaan panas mentari yang membakar kulit mereka. Bertiga saja kadang menantang para satpol PP meskipun akhirnya tetap ditertibkan juga.

Waktu memang cepat berlalu.

Kedua matanya yag keriput merayapi senja yang akan turun dibarisan gedung pencakar langit Jakarta. Rasanya belum lama ia dan anaknya menikmati senja itu sambil sesekali menawarkan dagangan mereka pada lalu-lalang orang yang menanti bus lewat. Sebagai seorang ibu, sudah sebisa mungkin ia membahagiakan kedua anaknya. Menyekolahkan keduanya meski hanya sampai lulus SMA. Dan ketika anaknya lulus dari SMA itulah ia sering mengeluarkan air mata. Mungkin umur yang sudah menua, pikirnya. Atau memang kesepian. Setelah lulus SMA, kedua anaknya memilih bekerja menjadi TKI hingga akhirnya keduanya sudah menikah dan punya anak masing-masing. Mereka seakan sudah terlena dengan kesibukan masing-masing.

Waktu memang cepat berlalu.

Seharusnya ia bahagia bukannya mengeluarkan air mata. Sudah empat tahun ini kedua anaknya tidak datang mengunjunginya. Padahal dia sangat rindu dengan kedua anaknya. Dia hanya ingin bisa berkumpul bersama dengan mereka. Bukan minta uang. Perhiasan. Tapi hanya kumpul bersama. Itu saja. Ibu tua dalam kebaya menghembuskan napas sambil sesekali menghapus air matanya. Ia bereskan dagangannya dan sesegera mungkin pulang ke peraduan.

Ya..anak-anaknya memang sudah lupa dengannya.

* * *

Laki-laki itu menginjak kopling dalam-dalam hingga mobilnya serasa berlari tanpa ada batas kecepatan. Mobil Porche Hitam itu melintas dengan kencang. Jam ditangannya sudah menunjukkan jam telat kantor. Ia terlambat. Seharusnya ia sudah sampai kekantornya di pusat kota Jakarta. Pekerjaannya sebagai asisten direktur bagian diperusahaan minyak terkenal di Indonesia membuatnya harus selalu ekstra disiplin.

Apalagi hari ini hari istimewa. Hari ini terakhir kalinya dia akan menjadi asisten direktur bagian dan naik posisi menjadi direktur bagian. Sungguh kesempatan yang tak boleh terlewatkan sedetikpun. Mungkin semua staff, karyawan, atasan apalagi media massa pasti tak sabar menunggu kedatangannya. Ia percepat kemudi mobilnya, tapi, damn it!

Perempuan tua tiba-tiba menyeberang secara tiba-tiba. Ia pijak pedal rem sedalam-dalamnya. Untung, nyawanya masih ada dalam raganya. Ia emosi. Ia memakirkan mobilnya dipinggir jalan dan segera menghampiri perempuan tua itu.

“Hey..kamu! Kalau menyeberang kenapa sih tidak lihat kanan kiri dulu! Kamu pikir jalan ini milikmu! Ini jalanan umum. Tak sepantasnya kamu menyeberang seenakmu.” ujarnya marah-marah. Perempuan tua itu tertunduk lesu. Pakaian lusuhnya yang terbungkus kebaya terkena teringat dan membanjiri bakul berisi makanan didalamnya. Masih dongkol, laki-laki itu meluapkan lagi seluruh emosinya.

“Kamu tuli? Bisu? Kenapa diam? Kenapa tidak minta maaf atau apalah. Kelakuanmu tadi bisa saja saya tuntut ke pengadilan.”

“Jangan Pak. Saya benar minta maaf. Saya hanya terburu-buru mau jualan rujak saya. Tolong jangan laporkan saya.” Suaranya gemetar ketakutan, keringatnya membanjiri tubuhnya.

“Ah sudahlah.” Lelaki itu membalikkan diri dan berjalan menuju mobilnya. Penjual rujak tak tahu diri, pikirnya. Penjual? Rujak? Sejenak lelaki itu berhenti. Ia membalikkan tubuhnya tapi penjual rujak tadi sudah menghilang. Kata penjual rujak itu segera bermain didalam memori otaknya. Bukankah ketika ia kecil, dia dan Ibunya adalah penjual rujak? Ibu?

Kringgg!!!!! Handphone lelaki itu bergetar. Dia buka dan SMS dari si bos untuk segera menuju ke kantor. Ia percepat langkahnya, secepat ia mengenang memori tentang ibunya. Ya..sekarang dia adalah direktur bagian.

Waktu memang cepat berlalu.

* * *

Gambar

Normal
0

false
false
false

IN
X-NONE
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}

“Sentausa Restaurant”. Restoran itu cukup sibuk. Apalagi jam kerja seperti sekarang. Restoran itu terletak dipusat keramaian Jakarta. Tempat yang strategis dan cukup ramai memang untuk mencari pelanggan setia. Apalagi dikanan kirinya tumbuh gedung-gedung tinggi pencakar langit.

“Resoran Indonesia yang menyajikan selera makanan yang lezat dan berkelas. Good restaurant.” kata salah seorang pelanggan.

Diujung pantry, perempuan berambut panjang nan lurus itu mengawasi kerja karyawannya. Dengan balutan kemeja merah dan rok setinggi lutut, mata perempuan itu sangat tajam. Ia mengawasi semua gerak-gerik karyawannya dan memastikan semuanya berjalan normal. Sejenak matanya nanar. Dari arah pintu masuk restoran ia melihat seorang wanita lusuh yang berusaha masuk kedalam. Perempuan itu kumal dan memakai pakaian setengah sobek terbungkus oleh kebaya usang sambil membawa perlengkapan mainan anak.

“Maaf Anda mau kemana?” perempuan berambut panjang menegur.

“Saya hanya ingin menjajakan dagangan mainan saya ke para pengunjung Bu. Saya tidak berniat apa-apa. Hanya ingin berjualan.”

Sorry! Ini restoran, tempat untuk makan. Bukan tempat jualan. Maaf! Sebaiknya anda segera pergi.” Perempuan itu lugas sembari mengedipkan matanya ke arah satpam. Seakan sudah tahu isyarat itu, perempuan penjual mainan itu segera melangkah keluar. Sambil merapikan bajunya, perempuan berambut panjang menghela napas panjang. Dasar penjual mainan, pikirnya. Penjual? Mainan?

Kata itu melayang dalam pikirannya. Sejenak ia mengerutkan dahi. Bukankah dulu, dulu sekali dia dan ibunya…ya ibunya adalah penjual mainan? Ia membalikkan tubuhnya kearah pintu masuk gerbang, tapi perempuan penjual mainan tadi sudah menghilang. Ibu?

“Nyonya…” suara salah seorang karyawannya mengejutkan lamunannya.

“Ada apa?”

“Tadi ada telepon dari pihak Kedubes Malaysia bahwa restoran kita terpilih untuk menyediakan makanan khusus untuk ulang tahun mereka.”

Perempuan berambut panjang tersenyum lebar. Ia tidak terkejut karena sudah sering ia mendapat pesanan dari pejabat tinggi atau pengusaha kelas atas. “Segera kumpulkan semua staff, karyawan, pelayan dan cheff ke ruang rapat.” Perempuan itu gembira. Terlalu gembira. Ya..sekarang dia adalah manager restoran ternama.

Waktu memang cepat berlalu.

* * *

Perempuan tua dalam kebaya mengeluarkan air mata. Suaranya parau menjajakan dagangan mainan dan rujaknya. Napasnya kadang tersengal-sengal. Angin kencang kadang mempermainkan dagangannya. Angin itu pulalah yang membuatnya tersentak. Ya..perempuan dalam kebaya itu tersentak. Bukan karena panas matahari. Bukan karena satpol PP. Atau bukan karena cacian orang. Namun lembaran koran yang jatuh melayang dari sebuah mobil mewah yang tepat melintas didepannya. Mobil Porche hitam yang melintas kencang didepannya. Koran itu tepat terjatuh didepan dagangannya.

Bukan berita atau info yang ia baca. Bukan tentang harga sembako yang meroket. Bukan tentang BBM yang merangkak membuat leher rakyat kecil tercekik. Bukan tentang korupsi yang menjadi kanker negara. Bukan tentang nasib TKI yang mau dipancung dinegeri tetangga. Tapi hanya foto itu yang ia lihat. Ya..foto.

Dikoran itu ada dua foto anaknya. Satu foto laki-laki dengan keterangan Tono :Direktur Bagian Baru Perusahaan Minyak Indonesia. Dan satu foto perempuan dengan keterangan Ade :Manajer Restoran Hebat “Sentausa Restaurant”.

Perempuan tua dalam kebaya tak kuasa mengeluarkan air mata. Ia dekap erat lembaran koran itu kedadanya. Kedua foto itu adalah anaknya. Anaknya yang dulu berjualan rujak dan mainan.

Perempuan tua dalam kebaya menangis tanpa suara.

Waktu memang cepat berlalu.

* * *

SEBUTIR KACANG POLONG

SEBUTIR KACANG POLONG

Apa yang bisa kita perbuat dengan dentuman palu yang berdentum?
Apa yang bisa kita perbuat dengan senjata-senjata atom yang memuai?
Apakah kohesi akan mengantar dengan sedikit radiasi ataukah dengan partikel ia mampu mencair?
Tak masalah bila nadi atau parumu sudah kotor tapi jangan kau nyalakan lampu dalam kegelapan dan darahmu muncrat, terlalu muncrat dalam aspek guratan fatamorgana.

Ah…aku hanya seorang budak pena yang tak tahu kenapa dengan H2O,atmosfer atau sedikit catatan kaki.
Aku hanya segelintir lintah jalanan yang berpulang dari rumah dan mungkin kata Rumor aku tersesat.
Aku tak tahu arah jalan pulang.
Rumus partikelmu, gambar tentakelmu, diagram absurdmu atau tabel durjanamu tak bisa terbandingi dalam keseimbangan permintaan dan penawaran.
Melilit bak ulat yang menggigil dalam jalanan hijau Sang Pendekar Jantan.

Ah…aku hanya gelandangan yang hanya bisa berpikir makan apa untuk besok.
Perutku bergemericik, demo tak karuan untuk membakar sedikit quantum dan lelehan malam.
Nafasku memburu bau, mencercah lapisan ozone dan meorehkan lapisan asam sulfat yang bertuliskan minumlah sepuasmu.
Aku diburu waktu,dikejar ruang dan dihajar oleh spasial, terjamah dalam setiap elastisitas dan norma yang membusuk.
Aku tak punya oksigen, dan yang ku punya hanya rintihan dahan yang membakar oksigen ku dan membual mulutku dengan CO2.

Ah…aku hanya bercerita, mengelurkan dahaga karena efek rumah kaca yang ternyata aku baru sadar rumahku punya kaca.
Aku hanya mengeluarkan isi hati dari perut bumi dan yah…aku baru tahu bumi itu punya perut.
Aku tidak tahu bagaimana bumi makan dan apakah aku makanannya? Memakan aku serasa aku adalah sayur yang mengandung lemak dan vitamin.
Aku hanya gelandang kecil yang busuk, tak tahu apa-apa dan hanya bisa menatap rintihan mentari yang semenjak tadi kepanasan terbakar parasit radiasi.

Aku hanya setan kecil yang menunggumu pulang untuk membunuhku satu jam saja sembari membawakanku kacang polong sebutir.
Ya…sebutir saja.

 Gambar

MALAIKAT BERSANDAL KECIL

MALAIKAT BERSANDAL KECIL

Aku tidak tahu bagaimana dia berjalan, memutar tawa ditengah kejaran waktu.
Tersenyum memamerkan deretan gigi-giginya yang kuning langsat.
Sesekali tertawa riang dengan berlari setengah badan aspal dan menggembungkan pipimu.
Kau mengaca pada diri sendiri dan menertawakannya dengan sangat enteng.
Ah…cobalah kau sesekali menatap dedaunan kering yang menggugur atau alunan angin yang merayumu.
Menggombalimu seraya menamparmu dalam keributan gemeretak wajah yang seakan menerkammu.

Aku tidak tahu bagaimana kau dan dia berkejaran, memecah karang dan menghantamnya menjadi kepingan debu-debu yang usang.
Menggigil ditengah sayap pamflet jalan atau menahan kantuk diemperan warung makan
Ah..kau tahu anakmu menangis, memintamu pindah dan membawanya pergi segera.
Tapi kau tahu, kau tidak akan pernah bisa membuat rumah.
Dia sudah membuatmu tapi apa daya dia hanya kaki kecil yang lincah tapi rapuh.
Serapuh hatimu, serapuh jiwamu atau serapuh hujan yang menampar kulitmu.

Aku tidak tahu bagaimana kau tersenyum lepas tanpa beban seakan dunia menggendongmu.
Memberimu acar yang lezat atau menumpahkan lautan susu coklat keluberan mulutmu.
Kau itu sungguh membuatku iri, seakan kau ini kertas yang belum ditulisi apapun.
Masih putih bersih tak ternoda dengan sedikitpun titik-titik pena coklat yang menghiasi dindingnya.
Ah..kau itu malaikat, tak perlu sayap atau tongkat ajaib tapi hanya perlu dia.
Dia yang selalu menemanimu setiap waktu, menggairahkanmu untuk melepas jejak keringat yang mucrat dalam legam kulitmu.

Aku tidak tahu dan bahkan tak ingin tahu kemana tujuanmu.
Menyilangkan dua kaki dan menembus rel dalam genggamanmu yang erat, menembus setiap gerbong dan lokomotif yang tersisa.
Menari-nari dalam putaran desing-desing mur yang bergesekan dengan badan rel.
Ah…tapi bagimu itu biasa.
Kau biasa menari dalam setiap ledekan,cemoohan,ejekan atau hujatan yang melayang padamu.
Kau biasa berlari dan menembus derapan tentara seragam coklat yang kau anggap monster dan selalu ingin tak mengharapkan kehadirannya.

Ah..aku tidak tahu bagaimana nasibmu dan dia.
Aku hanya bisa tersenyum,lemah dan tidak tertandingi sama sekali denganmu.
Aku ingin berguru tentang kehidupan denganmu bukan dengan mereka yang di TV yang menirumu karena untuk mengisi perut mereka.
Aku ingin berguru denganmu dan dengan dia.
Dia yang selalu menemani kaki kecilmu melangkah kearah mimpi,tawa dan guratan tangismu.
Dia yang merah muncrat karena derapan kakimu yang kadang menangis merah karena dikejar oleh monster berseragam coklat.
Ah..kau dan dia itu malaikat.
Ya…kau dan sandalmu adalah malaikat bersandal kecil.Gambar

Malam Imlek

MALAM IMLEK

Cerpen Koran Minggu

Cerpen Hanna Fransisca (Media Indonesia, 10 Maret 2013)

Malam Imlek ilustrasi Pata Arendi

IA memang sudah tua, ringkih, dan belakangan selalu buang air di tempat tidur. Tapi, ia punya harta karun: 6 anak laki-laki, 6 menantu perempuan, 5 anak putri, 5 menantu laki-laki, 21 cucu dalam, 18 cucu luar, 3 cicit luar, dan 2 cicit dalam. Enam puluh enam nyawa manusia, dan sebelas di antaranya keluar dari rahimnya! Sungguh harta karun yang besar karena Thian telah memberi banyak keajaiban. Semua anak laki-laki dilimpahi kekayaan, semua anak perempuan dipersunting lelaki kaya.

View original post 1,204 more words