GADIS BERKERUDUNG MERAH

‘’GADIS BERKERUDUNG MERAH’’

Aku tidak tahu persis namanya siapa. Yang kutahu gadis itu berkerudung.Berkerudung merah tepatnya. Aku juga kurang tahu berapa umurnya, tapi aku lebih senang memanggilnya dengan sebutan gadis.Ehmm..agak konyol memang.Tapi aku sudah menyukainya semenjak bertemu tidak sengaja setahun yang lalu di stasiun.Matanya berwarna biru polos dengan balutan hidung mancung serta wajah elips yang dipadu padankan dengan kerudung khasnya yang berwarna merah. Bahkan ketika hari-hari berikutnya yang ternyata ia bekerja membantu ibunya berjualan mie keliling,kerudung merahnya tidak pernah terlepas dari kepalanya. Sambil menenteng tremos ditangan kanannya dan wadah bakul yang berisi mie instant di tangan kirinya,sesekali kulihat kerudung merahnya basah oleh peluh keringat yang membanjiri wajah elipsnya. Ya…kuakui gadis berkerudung merah itu sungguh memikat hatiku setahun ini.Sangat memikat dengan kerudung merahnya.
                                                            *****

Setahun ini pula aku sering pergi ke stasiun.Hampir tiap hari selepas kuliah aku selalu menyempatkan diri untuk singgah ke stasiun sekedar membeli mie goreng dan lagi-lagi hanya untuk melihat  gadis berkerudung merah itu.
‘’Maaf  bisa buatkan satu mie goreng?” ucapku padanya.Gadis itu berbalik arah kepadaku,sebentar tertegun dan langsung mengibaskan senyum dibibirnya.Kerudung merahnya berhembus kekanan kekiri dipermainkan oleh angin stasiun.
‘’Mie gorengnya apa seperti biasa,mas?’’ jawabnya sambil duduk menyeduh mie instant dalam mangkuk dengan termos yang ia pegang.Aku mengangguk.Lagi-lagi ia tersenyum dan lagi-lagi kerudung merahnya berhembus terkena tiupan angin.Setelah selesai ia lalu memeberikan satu mangkuk mie goreng hangat kepadaku.
‘’Ini mas’’ ucapnya pelan.
‘’Terima kasih!’’ujarku.Gadis itu sejenak tertegun dan melihat kepadaku sambil tersenyum.
‘’Maaf mas,tapi saya cuman penasaran saja.Kok selama satu tahun ini kenapa mas selalu makan mie kepada saya?” katanya sambil membereskan mie instant didalam wadah bakulnya.Aku menghentikan sejenak suapan mieku.Aku menghembuskan nafas dan menatap matanya.Sejenak mata kami saling bertatapan.Lama.Kerudung merahnya lagi-lagi berkibaran tak menentu.
‘’Mas?’’ dia menyadarkanku.
‘’Oh…iya.’’ Aku kaget dan langsung bersikap normal kembali. “Ehm saya hanya ngerasa mie goreng buatanmu sangat spesial dan lain daripada mie goreng yang pernah saya temui’’. Aku meringis.
‘’Spesialnya dimana mas?perasaan mie goreng buatan saya hanya sederhana saja.’’ Senyumnya lagi-lagi mengembang.
“Ya karena kesederhanaan itulah yang membuat mie goreng ini terasa spesial.Sederhana tapi spesial.’’ ucapku sambil menelan kembali satu suapan mie.Gadis itu hanya bisa tersenyum kembali.Dan sibuk merapikan mie instant yang ada didalam wadah bakulnya.
                                                            *****

Kemarin sore itulah yang mengawali sore-sore berikutnya.Sedikit demi sedikit kami bisa bertukar cerita.Namanya ternyata Rahma.Katanya usianya 18 tahun dan itu terpaut 1 tahun usianya denganku.Ia lulusan SMA dan tidak bisa melanjutkan kuliah karena kendala biaya.Cerita-cerita lainnya mungkin kurang penting untuk aku ketahui tapi satu pertanyaan yang masih mengganjal adalah alasannya memakai kerudung.Tapi aku tidak berani untuk menanyakannya.Aku takut jika pertanyaan itu bisa menyinggungnya. Tapi yang kutahu selama 2 tahun perjalanan ini aku selalu pergi menemuinya hampir tiap sore distasiun.Hanya sekedar melihatnya lengkap dengan kerudung merahnya.

                                                            *****
            Sore itu stasiun sepi.Senja sudah begitu tiba diufuk fatamorgana.Kilauan sinar merah jambunya menerobos tiap gerbong kereta yang baru saja lewat.Gerombolan manusia berdesakan keluar gerbong seakan cacing-cacing yang ingin menggeliat keluar dari dalam tanah.Aku alihkan pandanganku ke sekeliling stasiun.Senja yang ada sedikit menghalangi pandanganku.Tapi gadis itu tidak ada. Lama aku menengok kekanan kekiri kedepan kebelakang untuk mencari gadis berkerudung merah itu.Tapi hasilnya nihil.Hari ini memang aku telat gara-gara kuliah tambahan yang membosankan dan sekarang ketelatanku berujung nihil.Aku menghembuskan nafas.Aku menyesal.Padahal hari ini aku akan segera mengatakan kepadanya.Ya…aku ingin menyatakan cinta kepadanya tapi lagi-lagi angin senja stasiun mempermainkannya.
                                                                        *****
            Rutinitas kuliah memang menyebalkan.Apalagi jurusan Informatika. Tugas,tugas dan tugas.Setiap hari hanya tugas.Damn it! Dan selama 5 bulan ini aku disibukkan oleh tugas itu.5 bulan pula aku juga jarang ke stasiun.Jarang melihat gadis itu dan kerudung merahnya.Perasaanku selama 5 bulan itu juga masih tetap sama kepadanya.Tidak berkurang sedikitpun.Tapi ada yang berkurang sekarang dalam hidupku.Mie goreng dan kerudung merahnya.Ya tentu saja.Aku merindukannya lengkap dengan kerudung merahnya.

                                                            ******

Setahun sudah aku tidak menemuinya sama sekali.Tidak dengan mie gorengnya.Tidak dengan kerudung merahnya.Angin stasiun yang dulu mempermainkan kerudung merahnya ataupun mie goreng hangat yang diseduhkan kepadaku sekarang hanyalah sebuah memory belaka yang mungkin akan menjadi takdir bahwa ia bukan siapa-siapa dalam hidupku.Aku pun juga terlalu tolol.Tiap sore tidak pernah datang menemuinya karena memang rutinitas kampus memang menyebalkan.

Tugas,kegiatan dan praktek.Itu saja yang selalu mempermainkan hidupku dan tidak ada angin stasiun yang mempermainkan kerudung merahnya dalam benak pikiranku.Mungkin sekarang ia juga lupa denganku.Sekarang mungkin ia bukan lagi gadis tapi sudah wanita dewasa yang berumur 21 tahun.Tapi aku selalu berharap ia selalu ingat denganku dan tentu saja aku akan selalu mengingatnya lengkap dengan kerudung merahnya.

Aku terhenyak.Lamunanku terbuyar oleh penjelasan dosen yang mengoceh tanpa henti.Aku menarik nafas panjang.Mataku aku pejamkan.Aku memutuskan sore hari nanti harus ke stasiun.Persetan dengan kuliah tambahan.Aku hanya ingin merasakan mie goreng spesialnya dan melihat kerudung merahnya yang selalu bergerak dipermainkan oleh hembusan angin.Ya..aku harus ke stasiun dan segera menemui gadis itu lengkap dengan kerudung merahnya.

                                                *****

Entah kenapa stasiun sore ini begitu ramai.Lalu lalang orang selalu bergerak seakan berlomba dengan lintasan rel kereta api yang tidak pernah lelah mengantarkan gerbong-gerbongnya.Angin stasiun bergerak pelan diantara lalu lalang orang yang melintas.Para penjual minuman dan makanan kecil saling ruwet menjajakan camilannya kepada setiap orang yang baru saja turun dari gerbong kereta api.Bau peluh dan keringat manusia bercampur dengan suara bising kereta dan polusi suara dari kicauan orang yang lalu-lalang menambah pusingnya suasana stasiun.

Aku tertegun.Mataku nanar.Lagi-lagi dia tidak ada.Gadis berkerudung merah dengan termos ditangan kiri dan bakul wadah mie instan di sebelah tangan kanan.Setengah berlari aku mencarinya kesegala penjuru stasiun.Angin stasiun seakan mengisyaratkan agar diriku untuk mencarinya lengkap dengan kerudung merahnya.Tapi hasilnya nihil.Aku frustasi.

Langit sore kian tenggelam.Kilauan senja di fatamorgana siap untuk menggantikannya.Stasiun bertambah ramai.Aku kehilangan semangat hidup.Aku duduk dibangku yang biasanya aku gunakan untuk makan mie goreng hangat buatannya.Aku memejamkan mataku dan menarik nafas panjang.Lama.Sangat lama.
                                                                        ******

‘’Ma..ada mie goreng ma di bangku itu!’’ seorang anak kecil berteriak merengek kepada ibunya untuk minta mie goreng membuyarkan tidurku.Ternyata aku tertidur.Aku membuka mataku dan melihat anak kecil itu.
‘’Jangan Rara!Itu sudah basi nak,mienya.Nanti kalau sampai dirumah, mama buatin deh mie goreng spesial untuk Rara’’.Ibu anak itu menasehati anaknya.Anaknya tersenyum dan mencium pipi ibunya.Aku mengalihkan pandanganku dari anak kecil itu kebangku disebelahku.Mataku terhenyak.

Ada satu mangkuk mie goreng yang sudah basi,lembek dan berjamur.Aku mengambil mie goreng itu.Baunya anyir luar biasa.Aku menutup hidungku.Tapi…bukan baunya yang aku perhatikan tapi selembar kertas yang sudah basah dan setengah agak sobek didalam mangkuk mie goreng itu.Aku mengambil dan membacanya.

‘’AKU BERSYUKUR JIKA MAS MENEMUKAN KERTAS INI BESERTA MIE GORENGNYA.AKU JUGA BERSYUKUR TUHAN SUDAH MEMPERTEMUKAN SAYA DENGAN ORANG SPESIAL SEPERTI MAS.SEMENJAK PERTAMA BERTEMU SAYA SUDAH MENCINTAIMU MAS.SAYA SENGAJA AGAR TIDAK PULANG KETIKA SORE HARI DAN SENGAJA MENYISIHKAN BEBERAPA MIE INSTAN KARENA MEMANG AKAN SAYA BERIKAN UNTUK MAS.TAPI TIGA TAHUN INI MEMANG TERASA LAMA.AKU TIDAK SANGGUP LAGI MAS JIKA HANYA BEKERJA SEPERTI INI.ORANGTUAKU DAN ADIK-ADIKKU SANGAT MEMBUTUHKANKU DAN BERGANTUNG HIDUP DARIKU.MAAF JIKA INI MEMANG MENYAKITKAN TAPI INILAH KENYATAAN DALAM HIDUP.SEKALI LAGI RAHMA MINTA MAAF MAS.RAHMA MENCINTAIMU.’’

Entah kenapa aliran darahku tiba-tiba menegang.Butiran halus dari mataku mengalir deras ke pipiku.Aku hanya bisa memandangi kertas itu lama.Sangat lama.Angin stasiun mencoba merebutnya dan menerbangkan kertas itu tapi aku pegang erat kertas itu.Kupejamkan mataku dan menarik nafas dalam-dalam.Senja tiba.Kemilau merah jambunya menerangi seisi stasiun.Kubuka mataku dan samar-samar dari kejauhan aku melihat dua orang sedang bergandengan mesra.Laki-laki dan perempuan.Si perempuan menggelayut manja disamping seorang laki-laki yang sudah setengah baya.

Aku berdiri dari bangku stasiun.Perempuan manja itu menengok ke belakang.Lama ia menegok ke belakang dan bertatapan denganku.Lama.Sangat lama.Air matanya kemudian mengalir.Aku hanya bisa diam terpaku.Ia menghembuskan nafas,menghapus air matanya dan segera menggelayut manja kembali dalam pelukan lelaki itu.Aku tertegun.Tidak percaya.Kertas dalam genggamanku terebut oleh angin stasiun dan dipermainkan olehnya dalam sinar kemilau merah jambu senja.

Aku masih tidak percaya dengan perempuan tadi.Air mataku menetes kembali.Ah..kenapa jadi begini.Perempuan itu adalah yang dulu kukenal dan kuakui sebagai gadis berkerudung merah  pertama kali sambil membawa termos dan bakul wadah mie instan.Tapi sekarang aku tidak melihatnya menggunakan kerudung merah.Ya…tanpa kerudung merahnya.

Angin stasiun senja menembus mataku sambil tetap melihat gadis kecil tanpa kerudung merah.
                                                            *******

Malang,09 Januari 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s