TANPA JUDUL

Dulu..dulu sekali kukira teman itu hanyalah sebagai teman.Tak lebih.Teman yang mampu menorehkan cerita dan berbagi semua tentang hidup.Teman yang membuat segalanya bahkan membuat hidup yang penuh keras dan kejam ini untuk sekedar bersabar dan selalu tersenyum.Aku tidak tahu bagaimana waktu bisa memutar itu semua dengan begitu mudahnya.Aku tak tahu kenapa sejarah justru mengulang semuanya dan membuat ‘’teman’’ itu hilang dari kamus peradaban.Aku tidak tahu kapan,dimana,mengapa,bagaimana atau apa yang membuatku gila dan melupakan tentang kata teman itu.Harusnya semuanya berjalan mulus sebagai teman dan tidak ada satupun yang harus merubahnya kecuali waktu.

Aku menyukai waktu.Darinya aku belajar mengenai proses.Karena bagiku waktu itu adalah proses.Dan proses itulah yang membutuhkan waktu untuk membuat segalanya menjadi hasil akhir.Ya…hasil akhir dari sebuah proses.Dan aku hanya bisa meringis.Proses.Ya…mungkin proses itulah yang sengaja bersekongkol dengan waktu untuk menghilangkan teman.Mungkin juga proses telah memperkosa waktu dan membiarkannya begitu saja sehingga membuat semuanya termasuk teman harus berubah.

Dulu..dulu sekali kukira teman itu berganti menjadi sahabat.Tak lebih.Sahabat yang mempunyai cerita lebih dibandingkan dengan seorang teman.Sahabat yang menorehkan tinta kehidupan lebih mendalam dari sebuah teman.Sahabat yang bisa berbagi cerita segalanya dan mengukir semuanya menjadi gulungan karton yang bisa diukir indah dalam peti emas.Namun aku juga tidak tahu kenapa lagi-lagi waktu memutarnya kembali untuk merubah sahabat itu.Waktu menelannya dan membinasakannya.

Dari itu entah kenapa aku membenci waktu.Aku tidak begitu tahu dan tidak mau tahu dengan waktu.Kalaupun waktu adalah proses maka kenapa waktu harus terus berputar? Bukankah itu berarti proses hanya akan selalu dipermainkan oleh waktu yang tidak pernah mau untuk berhenti? Dimana proses itu berjalan? Aku hanya merasa kasihan dengan proses. Ia dipermainkan oleh waktu dan kutahu mungkin proses akan kembali dipermainkan oleh waktu jika proses itu tidak segera menjelma menjadi hasil akhir yang indah.

* * *

Waktu pula yang mengantarkanku sampai sekarang.Berkelana dalam keramaian kampus,bergelut dengan buku-buku tebal ataupun ocehan dosen yang kadang sangat membosankan.Dan kau tahu mungkin semua hal yang kita pikirkan mengenai kampus saat SMA akan berbanding terbalik dengan apa yang saat ini kita rasakan saat dikampus.Suasananya,kondisinya,prinsipnya dan semuanya tentang kehidupan jelas berbeda.Termasuk dengan waktu dan proses.

Waktu masih saja bisa mempermainkan proses sampai sekarang.Aku masih membenci waktu karena lagi-lagi proses hanya bisa tergantung dari waktu.Tanpa waktu proses hanya ilusi belaka.Abstrak.Absurd.Das sollen.Kalau menginginkan hasil akhir yang indah maka suap saja waktu sehingga proses akan dihajar dan lagi-lagi diperkosa oleh waktu agar terbentuk hasil akhir yang indah.Kau tahu waktu memang kejam.Sangat kejam.Proses kita dan kehidupan kita merupakan permainan waktu,paksaan waktu sehingga nantinya masa depan kehidupan kita menjadi hasil akhir yang indah.

Aku bukanlah waktu.Aku hanya bagian dari proses.Proses yang kadang kita harus memaksanya mengejar waktu padahal kita sendiri tidak akan pernah bisa menuntut apalagi mengejarnya.Tapi biarlah.Biarkan saja waktu menjadi raja. Karena waktu memang bagian dari kehidupan dan menjadi malaikat bagi kehidupan ini.Kita tidak tahu kapan kita akan dicabut waktu atau dilindas oleh waktu atau mungkin dibunuh sendiri oleh waktu.Ya…waktu memang kejam.Sangat kejam

* * *

Sekarang aku tahu waktu itu apa.Jangan mengatakan waktu itu definisinya apa?Tapi tanyakan kenapa sahabat itu ditelan oleh waktu dan memaksa proses itu hilang begitu saja.Karena memang waktu itu bukan raja.Masih ada raja lain yang lebih tinggi bahkan tidak ternilai tingginya dari sang waktu.Yaitu Tuhan.ALLAH SWT. Dialah yang mengatur proses itu.Kita harus mempercayainya.

Tentang teman,sahabat dan perasaan sekarang ini adalah proses yang dikuasakan oleh Tuhan. Semuanya butuh Tuhan.Butuh proses.Dan kau tahu kita memang membutuhkan Tuhan dan proses itu.Kita tidak butuh waktu.Kita membutuhkan Tuhan.Biarlah proses itu diatur oleh Tuhan dan biarkan Ia sendiri yang menjawabnya.Tentang apa itu sahabat…tentang apa itu teman mungkin bukanlah suatu misteri yang harus didengungkan.Karena sebuah proses pasti membutuhkan perjuangan sekaligus penantian yang panjang sehingga nantinya bisa menjadi hasil akhir yang indah.

Kau tahu,cinta itu adalah sakral.Ya…memang.Cinta kepada Tuhan.Serahkan saja perasaan ini kepada Tuhan untuk dititpkan dan suatu saat nanti biar Tuhan saja yang mengembalikan perasaan itu kepada kita berdua.Biarkan Tuhan yang menanti sekaligus mengatur proses itu.Karena ketika ku bersujud kepada Tuhan aku merasakan perasaan itu begitu tenang dan membuat cinta itu begitu sakral.Apa kau merasakannya?

Dan biarkan perasaan ini mengalir dalam proses.Aku pasti menunggu perasaan yang kita titipkan kepada Tuhan lima tahun kedepan.Ya…lima tahun ke depan.Biarkan ayahmu dan juga ayahku bisa melihat bagaimana perasaan nanti itu bisa diberikan Tuhan pada saat waktu yang tepat.Aku tidak tahu apakah perasaan ini bisa sejenak menanti selama lima tahun dan menunggu hingga semuanya tiba.Tapi bukankah Tuhan akan selalu menjaga kita?Selalu mengatur proses kita?

Tersenyumlah.Mungkin ini bukan apa-apa.Tapi aku tidak tahu kenapa tulisan ini begitu lancar aku buat.Ya…mungkin ini gara-gara proses itu.Tapi biarkan saja.Aku akan menunggumu lima tahun nanti.Bersabarlah dan selalu tersenyum karena kita yakin proses ini pasti akan menjadi hasil akhir yang indah nantinya.

* * * *

 

Masjid Al-Farabi,Malang,10 Januari 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s