Aku Kau dan Penantian

‘’ Sayang kau jangan menangis. Aku hanya sementara. Aku hanya pergi sebentar dan tidak akan pernah pergi meninggalkanmu. Maaf aku memang pergi agak lama, sayang. Tapi tidak meninggalkanmu karena aku memang mencintaimu.’’
* * *
Terik mentari memang sudah menjadi kebiasaan dalam hari-hariku. Aku sudah akrab dengannya. Terlalu akrab malahan. Di tengah siang hari yang membakar kulit, aku berlarian sepanjang trotoar dengan derap langkah sepatu hitam. Sudah berapa puluh pergantian terik mentari ini aku rasakan. Setiap hari aku memang harus bersahabat dengannya selayaknya yang lain. Memang berat tapi beginilah adanya.
‘’Kalau memang tidak kuat gak usah ikut, mending keluar saja.’’ ucap salah satu temanku.
Pernah terlintas dalam pikiran ku bahwa aku ingin keluar. Aku ingin meninggalkan rutinitas ini dan bisa pulang sambil melihat senyummu. Tapi karena profesionalitas sekaligus amanat bapak yang dulu menyuruhku kesini, membuatku mau tidak mau harus bertahan. Toh, ini memang aku dan ini pekerjaanku. Kalau aku tidak bertahan bagaimana dengan senyummu? Kalau aku tidak bertahan bagaimana dengan hidup kita?
* * *
Setiap kali ingin menjelang tidur aku selalu menyempatkan diri melihat senyummu lewat foto. Aku sentuh wajahmu di foto itu dan aku elus pipimu. Terkadang rasa rindu memang bisa membuatku gila dan sesekali keluar dari batas normal dan batas kewajaran seorang manusia. Tapi inilah aku. Meskipun aku lelaki yang selalu ditempa fisik dan mental setiap hari tapi aku memang merindukanmu. Rindu setengah mati. Kau tahu kan bagaimana rasanya bila sudah rindu setengah mati?
‘’Kalau memang tidak kuat gak usah ikut, keluar saja tidak apa-apa. Toh itu hakmu kan.’’ Lagi-lagi temanku melontarkan pernyataan yang serupa. Dia menepuk bahuku dan segera duduk di sampingku sambil membawakanku secangkir kopi hangat.
‘’Terima kasih,Joe.’’ Aku hanya bisa menghela nafas panjang.
‘’Sudahlah jangan dipikirin terus, Toni. Memang dia sangat berarti dan sangat berguna bagimu tapi mbok ya jangan dipikirin teruslah. Kalau kamu pikirin terus itu malah menghambat karirmu sendiri. Kamu jadi ndak fokus disini.’’ Sarannya sambil meneguk kopi di genggaman tangannya.
‘’Tapi Joe…’’ aku lagi-lagi menghela nafas. Aku pasti kehilangan alasan untuk sekedar menjawab kenapa selalu memikirkanmu terus.
‘’Tapi kenapa Ton? Kamu tidak bisa sejenak nglupain dia? Ya itu emang wajar. Kalau kamu nggak gitu menurutku kamu justru malah lelaki yang bejat. Tapi ya profesional sajalah. Kan ini emang kerja kita. Mimpi kita. Cita-cita kita. Bukankah bapakmu menginginkan kamu menjadi seperti sekarang? Ya okelah dia memang berharga. Tapi jangan sampai kau kepikiran terus dengan dia dan itu justru menghambat kerjamu disini. Jadi profesional aja.’’ Sahut Joe panjang lebar.
Perkataan temanku yang memang sama-sama berasal dari Jawa ini membuatku luluh. Sudah sering dia mengatakan itu padaku. Bahkan dia juga yang selalu mengingatkanku bila aku sudah kehilangan semangat.
‘’Inget besok kita latihan lagi. Aku tidur duluan ya. Jangan sampai mikirin dia terus kamu lupa tidur lagi.’’ katanya sambil menepuk bahuku. Dia lalu memanjat tangga ranjang dan tidur di ranjang bagian atas sedangkan aku di ranjang bawah. Lagi-lagi aku hanya menghela nafas. Lama aku masih melihat fotomu lengkap dengan senyum manismu. Andai saja ada waktu semenit untuk menelponmu maka aku akan mengucapkan selamat tidur padamu. Tapi sayang disini pasti tidak akan mengizinkan.
Aku mengecup halus dahimu. Dulu aku memang selalu mencium halus dahimu sebelum tidur malam. Tapi sekarang hanya bisa lewat foto. Tapi tak apalah. Dengan berat hati aku simpan fotomu di bawah bantal. Aku rapikan selimut dan segera memejamkan mataku. Aku berharap bisa mimpi indah bertemu denganmu. Selamat tidur sayang.
* * * *
Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Tapi kenapa mataku selalu sulit untuk diajak tidur? Setiap hari selalu begini, begini dan begini. Sesekali aku bangun dari ranjang tempat tidur dan bertopang pada tembok untuk melihat ke luar rumah lewat jendela. Rembulan malam berbentuk lingkaran penuh menyapaku. Ia membawa kenanganku denganmu saat pertama kali melewati malam pertama. Aku masih ingat kau mengodaku habis-habisan saat malam pertama itu dan selalu mengodaku setiap hari dan setiap malam. Aku masih ingat kau selalu mengecup halus dahiku dengan lembut dan penuh mesra.
Tapi sekarang waktu memutar itu semua. Ia merebut kemesraan itu. Aku memang memaklumi pekerjaanmu. Pekerjaanmu memang mulia dan itu aku memang menerimanya. Semenjak kita pacaran pun aku sudah menerima hal itu. Tapi aku hanya bisa pasrah dengan keadaan ini. Hanya pasrah dan mungkin akan selalu menunggumu di pintu rumah sambil tersenyum dan mengecup halus dahiku dengan mesra.
Tak terasa air mataku mengalir. Aku tak kuasa menahannya. Aku rindu kepadamu. Sangat rindu. Rindu setengah mati. Kau tahu kan bagaimana rasanya rindu setengah mati? Aku benar-benar merasa kesepian dan rindu dengan semua tentangmu. Tentang senyummu, semangatmu, godamu dan semua hal tentangmu. Aku beranjak ke ranjang dan melihat fotomu. Kau tampak gagah dengan seragam coklat milikmu. Kau tersenyum sambil tanganmu memegang punggungku dan mencium pipiku.
Aku mengambil fotomu itu. Aku elus secara perlahan dan tak terasa air mataku mengalir ke fotomu itu. Aku menghapusnya lalu melekatkannya erat ke dadaku. Sangat erat. Aku rebahkan tubuhku ke kasur sambil tetap memeluk fotomu itu dan berharap bisa mimpi indah denganmu. Selamat tidur sayang.
* * * *
Pagi beranjak dan aktivitasku pun dimulai. Seperti biasa disiplin harus diutamakan. Sarapan, mandi, shalat, bahkan berak pun harus disiplin. Latihan pembuka seperti lari pagi atau push-up atau latihan fisik lain pun sudah menjadi sarapan setiap hari bagiku. Hukuman jika melanggar pun juga sudah menjadi kawan akrabku disini. Tapi aku menjalaninya dengan sukarela dan penuh semangat karena memang inilah cita-citaku. Inilah mimpiku dan aku memang harus mencintai duniaku ini.
Dan sudah setahun ini aku terjun dalam duniaku sendiri. Aku bersama seratus lima puluh temanku yang lain dilatih disini. Beberapa minggu ke depan memang kami ada keperluan untuk terbang ke luar. Karena itu kami harus dilatih. Dan memang aku menyukai ini seperti halnya aku menyukaimu. Setiap hari, setiap jam, setiap menit, bahkan setiap detik aku selalu memikirkanmu dan tentu dengan senyummu. Memikirkanmu membuatku justru bersemangat. Kaulah inspirasi dan penyemangatku. Kaulah sumber motivasi terbesarku. Aku tidak akan pernah untuk melupakanmu dan berjanji akan pulang sambil mengecup halus dahimu dengan mesra.
* * * *
Temanku menawariku kerja. Aku galau apakah mau atau tidak untuk menerimanya. Jadi model katanya.
‘’Ayok kerja, Santi. Daripada kamu nganggur dirumah gak ada kerjaan terus kesepian. Memang gak apa-apa mikirin dia tapi setiap hari masak kamu terus begini. Dimana gairah hidupmu? Jadi model enak kok. Apalagi dengan parasmu yang cantik dan tubuhmu yang masih ramping itu. Apalagi kan dulu kamu jadi bintang di kampus. Udah pinter cantik lagi. Ayo ikut aja.’’ Bujuk teman lamaku yang dulu satu kampus denganku.
Aku bimbang dengan keputusanku. Disatu sisi aku memang ingin. Selama ini aku hanya menunggumu dirumah saja dan selalu memikirkanmu. Aku takut malah menjadi beban bagimu. Kau semangat bekerja secara sukarela sedangkan aku hanya enak-enakan di rumah. Apalagi ini bisa menjadi gairah penyemangat dalam hidupku. Tapi disatu sisi aku takut. Aku takut jika ini justru malah menjadi jurang dalam hidupku karena profesi model itu profesi yang rawan. Aku takut kesetiaanku padamu akan hilang. Aku sangat mencintaimu.
‘’Aduh jangan kelamaan mikir. Terima aja, dia gak bakalan marah kok. Toh ini juga demi kebaikanmu supaya gak stress mikirin dia terus hingga nanti pulang. Mending daripada nganggur nunggu dia lebih baik terima aja jadi model. Kesempatan ini gak datang dua kali lho.’’ Bujuknya tetap ngeyel mengajakku jadi model.
Entah apa yang merasuki tubuhku aku menerima ajakannya. Aku hanya bisa menghela nafas panjang sambil memikirkanmu. Aku berharap kamu juga berpikiran sama denganku dan ini aku lakukan memang demi kebaikan kita supaya aku tetap menunggumu hingga nanti kau pulang. Aku tetap menantimu di luar pintu sambil mengecup halus dahiku.
* * * *
Hari terus berganti. Tinggal dua hari ini aku ada di basecamp. Untuk selanjutnya aku dan seratus lima puluh pasukan lainnya diterbangkan untuk menjadi pasukan penyelamat di Kongo. Hari-hariku pun semakin sibuk dengan segala macam latihan. Latihan fisik, latihan mental, strategi, kekompakan, amunisi dan segala hal tentang keperluan dua hari mendatang telah menyita kesibukan waktuku.
Tapi selama itu aku tetap meyempatkan melihat senyummu lewat foto menjelang tidur. Aku berharap misi ini segera selesai dan bisa melihat senyummu kembali seperti biasa sambil mengecup dahimu. Tunggulah aku sayang.
* * * *
Alhamdulilah karirku melesat. Baru hitungan minggu kerjaku sudah banyak dan jadwalku sangat padat. Hari-hariku pun semakin sibuk dengan segala macam kegiatan model. Pemotretan, fashion show , gelar busana dan seabrek kegiatan model lain menyita hari-hariku. Aku merasa hidupku menjadi bergairah.
Tapi aku tetap menunggumu. Aku akan selalu menunggumu di luar pintu rumah sambil tersenyum kepadaku dan mengecup keningku dengan halus. Aku akan menantimu sayang.
* * * *
Jawa Pos Edisi 2 Januari 1994 hal.3 kolom atas
Tentara Pasukan Indonesia menjalankan misi penyelamatan pengiriman dari PBB ke Kongo. Misi ini mengirimkan pasukan tentara sebanyak seratus lima puluh orang dari Indonesia. Ketika tiba di Kongo ternyata Pasukan Garuda mendapat serangan kejutan dari pasukan pemberontak sehingga terdapat tentara yang tewas. Salah satunya terdapat tentara yang menyimpan foto seorang perempuan yang sedang tersenyum. Diketahui identitasnya ternyata bernama Toni……bersambung ke hal.6
Jawa Pos Edisi 2 Januari 1994 hal.3 kolom bawah
Model yang akhir-akhir ini sedang meroket namanya ditemukan tewas dalam perjalanan ke rumahnya. Ia ditemukan tewas dengan tusukan bertubi-tubi di perutnya. Diduga ia tewas karena dibunuh managernya yang merupakan temannya sendiri karena tidak mau memberikan uang kepada managernya untuk membeli narkoba. Barang bukti yang ada hanya pisau kecil dan disampngnya ada foto laki-laki yang mengenakan seragam coklat. Diketahui identitas model yang tewas itu bernama Santi…..bersambung ke hal.6

* * * *
Aku masih menyimpan halaman koran itu. Aku menyimpannya secara rapi. Sebelum menjelang tidur aku selalu rutin membacanya. Aku tidak pernah menyesal dilahirkan dari mereka. Aku tidak pernah menyesal dilahirkan di luar nikah dan oleh mereka dan dititipkan ke nenek. Aku tidak pernah menyesal sedikitpun belum melihat mereka secara nyata tetapi hanya lewat foto.
‘’Demi masa depan ayahmu makanya kamu dititipkan ke nenek.’’ Kata nenek ketika aku bertanya mengapa dititipkan kepadanya.
Ya…halaman koran inilah yang menjadi saksi keduanya. Saksi ke dua orang tuaku. Ayahku, Toni seorang tentara yang tewas dalam pengiriman Pasukan Garuda ke Kongo. Ibuku, Santi seorang model yang tewas karena manager yang tidak diberi uang untuk membeli narkoba. Dan aku sangat mencintai keduanya. Sangat mrncintainya. Ayah, Ibu aku mencintaimu.
* * * *
cropped-cerpen-kehidupan-terbaru-2012.jpg.’’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s