IBU TUA DALAM KEBAYA

Perempuan tua yang mengenakan kebaya usang itu mengeluarkan air mata. Matanya sesekali basah sambil menatap deretan lalu lalang motor dijalanan kota. Dulu…dulu sekali dia dan kedua anaknya sering menggelar dagangan dipinggir jalan itu. Bertiga menawarkan dagangan mainan dan rujak buah buatannya. Bertiga saja tanpa ada suami karena ia telah meninggal jauh ketika Toni, anak bungsunya menginjak usia satu tahun dan si sulung, Ade berumur lima tahun. Bertiga saja menembus kegilaan panas mentari yang membakar kulit mereka. Bertiga saja kadang menantang para satpol PP meskipun akhirnya tetap ditertibkan juga.

Waktu memang cepat berlalu.

Kedua matanya yag keriput merayapi senja yang akan turun dibarisan gedung pencakar langit Jakarta. Rasanya belum lama ia dan anaknya menikmati senja itu sambil sesekali menawarkan dagangan mereka pada lalu-lalang orang yang menanti bus lewat. Sebagai seorang ibu, sudah sebisa mungkin ia membahagiakan kedua anaknya. Menyekolahkan keduanya meski hanya sampai lulus SMA. Dan ketika anaknya lulus dari SMA itulah ia sering mengeluarkan air mata. Mungkin umur yang sudah menua, pikirnya. Atau memang kesepian. Setelah lulus SMA, kedua anaknya memilih bekerja menjadi TKI hingga akhirnya keduanya sudah menikah dan punya anak masing-masing. Mereka seakan sudah terlena dengan kesibukan masing-masing.

Waktu memang cepat berlalu.

Seharusnya ia bahagia bukannya mengeluarkan air mata. Sudah empat tahun ini kedua anaknya tidak datang mengunjunginya. Padahal dia sangat rindu dengan kedua anaknya. Dia hanya ingin bisa berkumpul bersama dengan mereka. Bukan minta uang. Perhiasan. Tapi hanya kumpul bersama. Itu saja. Ibu tua dalam kebaya menghembuskan napas sambil sesekali menghapus air matanya. Ia bereskan dagangannya dan sesegera mungkin pulang ke peraduan.

Ya..anak-anaknya memang sudah lupa dengannya.

* * *

Laki-laki itu menginjak kopling dalam-dalam hingga mobilnya serasa berlari tanpa ada batas kecepatan. Mobil Porche Hitam itu melintas dengan kencang. Jam ditangannya sudah menunjukkan jam telat kantor. Ia terlambat. Seharusnya ia sudah sampai kekantornya di pusat kota Jakarta. Pekerjaannya sebagai asisten direktur bagian diperusahaan minyak terkenal di Indonesia membuatnya harus selalu ekstra disiplin.

Apalagi hari ini hari istimewa. Hari ini terakhir kalinya dia akan menjadi asisten direktur bagian dan naik posisi menjadi direktur bagian. Sungguh kesempatan yang tak boleh terlewatkan sedetikpun. Mungkin semua staff, karyawan, atasan apalagi media massa pasti tak sabar menunggu kedatangannya. Ia percepat kemudi mobilnya, tapi, damn it!

Perempuan tua tiba-tiba menyeberang secara tiba-tiba. Ia pijak pedal rem sedalam-dalamnya. Untung, nyawanya masih ada dalam raganya. Ia emosi. Ia memakirkan mobilnya dipinggir jalan dan segera menghampiri perempuan tua itu.

“Hey..kamu! Kalau menyeberang kenapa sih tidak lihat kanan kiri dulu! Kamu pikir jalan ini milikmu! Ini jalanan umum. Tak sepantasnya kamu menyeberang seenakmu.” ujarnya marah-marah. Perempuan tua itu tertunduk lesu. Pakaian lusuhnya yang terbungkus kebaya terkena teringat dan membanjiri bakul berisi makanan didalamnya. Masih dongkol, laki-laki itu meluapkan lagi seluruh emosinya.

“Kamu tuli? Bisu? Kenapa diam? Kenapa tidak minta maaf atau apalah. Kelakuanmu tadi bisa saja saya tuntut ke pengadilan.”

“Jangan Pak. Saya benar minta maaf. Saya hanya terburu-buru mau jualan rujak saya. Tolong jangan laporkan saya.” Suaranya gemetar ketakutan, keringatnya membanjiri tubuhnya.

“Ah sudahlah.” Lelaki itu membalikkan diri dan berjalan menuju mobilnya. Penjual rujak tak tahu diri, pikirnya. Penjual? Rujak? Sejenak lelaki itu berhenti. Ia membalikkan tubuhnya tapi penjual rujak tadi sudah menghilang. Kata penjual rujak itu segera bermain didalam memori otaknya. Bukankah ketika ia kecil, dia dan Ibunya adalah penjual rujak? Ibu?

Kringgg!!!!! Handphone lelaki itu bergetar. Dia buka dan SMS dari si bos untuk segera menuju ke kantor. Ia percepat langkahnya, secepat ia mengenang memori tentang ibunya. Ya..sekarang dia adalah direktur bagian.

Waktu memang cepat berlalu.

* * *

Gambar

Normal
0

false
false
false

IN
X-NONE
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}

“Sentausa Restaurant”. Restoran itu cukup sibuk. Apalagi jam kerja seperti sekarang. Restoran itu terletak dipusat keramaian Jakarta. Tempat yang strategis dan cukup ramai memang untuk mencari pelanggan setia. Apalagi dikanan kirinya tumbuh gedung-gedung tinggi pencakar langit.

“Resoran Indonesia yang menyajikan selera makanan yang lezat dan berkelas. Good restaurant.” kata salah seorang pelanggan.

Diujung pantry, perempuan berambut panjang nan lurus itu mengawasi kerja karyawannya. Dengan balutan kemeja merah dan rok setinggi lutut, mata perempuan itu sangat tajam. Ia mengawasi semua gerak-gerik karyawannya dan memastikan semuanya berjalan normal. Sejenak matanya nanar. Dari arah pintu masuk restoran ia melihat seorang wanita lusuh yang berusaha masuk kedalam. Perempuan itu kumal dan memakai pakaian setengah sobek terbungkus oleh kebaya usang sambil membawa perlengkapan mainan anak.

“Maaf Anda mau kemana?” perempuan berambut panjang menegur.

“Saya hanya ingin menjajakan dagangan mainan saya ke para pengunjung Bu. Saya tidak berniat apa-apa. Hanya ingin berjualan.”

Sorry! Ini restoran, tempat untuk makan. Bukan tempat jualan. Maaf! Sebaiknya anda segera pergi.” Perempuan itu lugas sembari mengedipkan matanya ke arah satpam. Seakan sudah tahu isyarat itu, perempuan penjual mainan itu segera melangkah keluar. Sambil merapikan bajunya, perempuan berambut panjang menghela napas panjang. Dasar penjual mainan, pikirnya. Penjual? Mainan?

Kata itu melayang dalam pikirannya. Sejenak ia mengerutkan dahi. Bukankah dulu, dulu sekali dia dan ibunya…ya ibunya adalah penjual mainan? Ia membalikkan tubuhnya kearah pintu masuk gerbang, tapi perempuan penjual mainan tadi sudah menghilang. Ibu?

“Nyonya…” suara salah seorang karyawannya mengejutkan lamunannya.

“Ada apa?”

“Tadi ada telepon dari pihak Kedubes Malaysia bahwa restoran kita terpilih untuk menyediakan makanan khusus untuk ulang tahun mereka.”

Perempuan berambut panjang tersenyum lebar. Ia tidak terkejut karena sudah sering ia mendapat pesanan dari pejabat tinggi atau pengusaha kelas atas. “Segera kumpulkan semua staff, karyawan, pelayan dan cheff ke ruang rapat.” Perempuan itu gembira. Terlalu gembira. Ya..sekarang dia adalah manager restoran ternama.

Waktu memang cepat berlalu.

* * *

Perempuan tua dalam kebaya mengeluarkan air mata. Suaranya parau menjajakan dagangan mainan dan rujaknya. Napasnya kadang tersengal-sengal. Angin kencang kadang mempermainkan dagangannya. Angin itu pulalah yang membuatnya tersentak. Ya..perempuan dalam kebaya itu tersentak. Bukan karena panas matahari. Bukan karena satpol PP. Atau bukan karena cacian orang. Namun lembaran koran yang jatuh melayang dari sebuah mobil mewah yang tepat melintas didepannya. Mobil Porche hitam yang melintas kencang didepannya. Koran itu tepat terjatuh didepan dagangannya.

Bukan berita atau info yang ia baca. Bukan tentang harga sembako yang meroket. Bukan tentang BBM yang merangkak membuat leher rakyat kecil tercekik. Bukan tentang korupsi yang menjadi kanker negara. Bukan tentang nasib TKI yang mau dipancung dinegeri tetangga. Tapi hanya foto itu yang ia lihat. Ya..foto.

Dikoran itu ada dua foto anaknya. Satu foto laki-laki dengan keterangan Tono :Direktur Bagian Baru Perusahaan Minyak Indonesia. Dan satu foto perempuan dengan keterangan Ade :Manajer Restoran Hebat “Sentausa Restaurant”.

Perempuan tua dalam kebaya tak kuasa mengeluarkan air mata. Ia dekap erat lembaran koran itu kedadanya. Kedua foto itu adalah anaknya. Anaknya yang dulu berjualan rujak dan mainan.

Perempuan tua dalam kebaya menangis tanpa suara.

Waktu memang cepat berlalu.

* * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s